3D Browser Based Driving Simulation Using Steering Wheel Joystick

Finally, my first project during my master degree is completed.

3D Browser Based Driving Simulation Using Steering Wheel Joystick.

So, basically, user can use steering wheel joystick to navigate their car in 3D environment using browser as the user interface application. We also provide desktop application dashboard to give the user the look and feel of a real car dashboard such as speed, rpm, distance covered, fuel tank, etc. Moreover, navigation and the shortest path to the nearest gas station is provided. Sounds interesting? it is.

The tools that we use to accomplish this project is as follows:

– Google Earth to provide the browser based 3D environment

– DirectX to catch the input from steering wheel joystick

– C# to process the input from DirectX as well as creating the dashboard.

– Google Map to provide the navigation for gas station

– Google Sketch-up to create the 3D car as well as some main buildings in the simulation area.

In short, we use DirectX to catch the joystick input. Ā Then we map the input to keyboard press using SendKeys method in C#. The keyboard input will be caught by Google Earth javascript function and is used for navigation. We use monster milktruck example as the benchmark for navigation in 3D environment.

For gas station navigation, we embed web browser in our desktop application and use Google Map to navigate and find the shortest path to the nearest gas station.

The tricky part is to synchronize between the car speed in google earth and car speed in our dashboard desktop application. We experiment on thread sleep timing until we can pretty much adjust the synchronization in the tolerable difference.

To think this project is done only in less than one month, i have to give credit to our team for the sleepless night of researching and development. Time to drink soju and celebrate :D.

 

Advertisement

Tutorial Terbang ke Luar Negeri

Akhirnya saya ke luar negeri juga! yay!. Agak norak ya maklum karena baru pertama kali :D.

Setelah beli tiket, urus paspor dan visa akhirnya hari keberangkatan pun tiba.

Akhirnya kesampaian juga berhenti di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Terminal Internasional.

Di lounge luar banyak toko-toko dan hanya ada satu money exchange yang buka.

Saya tukar rupiah saya ke USD dan ke KRW (Korean Won) di tempat itu. Rate nya gila2an. Saran saya, jangan pernah tukar rupiah di bandara. Sewaktu saya tukar 2 juta rupiah, masing-masing 1 juta untuk USD dan 1 juta untuk KRW, saya hanya dapat 100 USD dan 100.000 KRW. padahal kurs saat itu 1 KRW sekitar 8 IDR. Harusnya saya dapat sekitar 120.000 an KRW. Tapi ya sudahlah.

Kemudian saya check-in ke counter Korean Air. Kebetulan di depan sepertinya orang Korea. Ternyata mas-mas penjaga counter bahasa Korea nya jago. anyonghaseo blablabla. Sewaktu giliran saya check in, dia langsung pakai bahasa Indonesia. Kemudian saya check-in, dapat boarding pass. OK.

Terus bingung, habis ini mau kemana? Saya tanya si mas. Si mas menjawab dengan ramah. Urus stempel fiskal katanya.

Okelah. di dekat counter ada beberapa ATM yang ada tulisannya pembayaran fiskal. Tapi ada counter pelayanan bebas fiskal. Oh NPWP. Senangnya aku mempunyai engkau. Berbekal pengetahuan bahwa kalau punya NPWP ga perlu bayar fiskal saya langsung menuju counter bebas fiskal.

Di counter ada pengumuman harus membawa akte kelahiran, kartu keluarga dan NPWP. Gawat juga, saya cuma punya NPWP. Akhirnya saya coba saja ke petugas. Saya serahkan NPWP dan boarding pass sambil berlagak cool dan tidak bertanya macam-macam layaknya sudah sering ke luar negeri. Padahal boleh nyontek dari orang sebelah.

Petugas ambil kartu NPWP saya dan ketik-ketik sedikit di komputer. Kemudian boarding pass saya di stempel “BEBAS FISKAL”. Yay! Hari gini belum punya NPWP, APA KATA DUNIA?

Kemudian saya menuju ke gate X keberangkatan. Di jalan menuju gate keberangkatan ada counter pemeriksaan paspor.

Orang asing dan orang Indonesia dipisah jalurnya. Sebelum menuju counter, kita harus mengisi semacam kartu. Isi kartu tersebut adalah identitas diri yang nantinya dirobek, 1 bagian untuk petugas dan 1 untuk kita. Sewaktu pulang ke Indonesia, kartu ini akan dicocokkan. Jadi sebaiknya disimpan baik-baik.

Akhirnya saya menuju ke lounge gate X tempat pemberangkatan. Sepanjang jalan banyak kios-kios elit bertuliskan “duty free”. On time, pesawat sudah siap dan pengumuman dalam 3 bahasa (Inggris, Indonesia dan Korea) intinya suruh masuk ke pesawat. Di dalam pesawat, pramugarinya super cakep. Macam-macam Song Hye Kyo wajahnya. Kebetulan di sebelah saya orang Korea. Dia ngomong blablabla + bahasa tarzan yang intinya minta tolong saya pindah ganti anak gadisnya yang duduk di tempat lain. Setelah ngobrol pake bahasa inggris yang terbata-bata dengan pramugari yang wajahnya seperti tidak ada pori-porinya (super mulus), saya pindah tempat duduk. Wah, kebetulan disamping saya orang Indonesia. Bagus lah. Pesawatnya super keren. Di depan setiap penumpang ada LCD touch screen buat bisa nonton film, dengar musik atau main game.

Masalahnya bahasanya bahasa Korea. Tapi ternyata setelah diutak-atik ada menu bahasa inggrisnya. okelah kalau begitu. Akhirnya pesawat pun diberangkatkan.

Kapan lu balik Indo, Tom? šŸ˜€

Beasiswa ke Korea (2)

Jadi saya sudah mendapat CoA (Certificate of Admission) dari universitas di Korea bernama Pukyong National University di kota Busan. Apakah saya senang? (Well, Apakah pertanyaan ini retoris? Ya iya lah. pakai nanya lagi – terus kalau retoris kenapa dijawab?-). Ā Setelah semua dokumen yang diperlukan sudah terkirim, hanya ada dua persyaratan lagi. Visa Pelajar (D2) dan tiket pesawat.

Untuk mengurus visa ke Korea Selatan bisa ke Kedutaan Besar Korea Selatan di

Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 57 (sebelah rumah sakit Medistra)
P.O.Box 4187Ā 12930
Jakarta Selatan
Phone:Ā +62-21-520-1915
Fax:Ā +62-21-525-4159
Email:Ā koremb_in@mofat.go.kr

biaya pengurusan visa pelajar (D2) per Februari 2010 (waktu saya mengurus) sebesar 500.000 rupiah.

Untuk mengurus visa pelajar cukup mudah. Kita hanya perlu mengisi formulir dan formulirnya bisa dibawa pulang jika ada data yang belum kita ketahui isiannya (misalnya: alamat di Korea, contact person di Korea, dsb).

Persyaratan dokumen yang perlu dibawa untuk mengurus visa D2 adalah sebagai berikut:

1. Ijazah S1

2. Passport

3. Surat penerimaan dari universitas di Korea (Certificate of Admission)

4. Bank Account certificate (dokumen dari bank yang menandakan bahwa anda atau penanggung anda memiliki rekening sebesar USD $100.000. – kalau yang ini informasikan ke prof. Biasanya prof sudah tahu dan sudah mengurus hal ini)

Setelah mengisi formulir, memenuhi dokumen yang diperlukan dan membayar biaya visa, visa akan diurus +- 4 hari kerja. Ada baiknya sebelum mengambil visa kita telepon dulu ke kedubes dan menanyakan perihal status visa.

Saya baru tahu kalau visa itu bukan semacam kartu atau dokumen, tapi hanya seperti stiker yang ditempelkan di halaman paspor.

Setelah mendapat visa, saya langsung membeli tiket ke Korea Selatan. Ada 2 maskapai yang menyediakan penerbangan langsung dari Jakarta (Cengkareng) ke Seoul (Incheon). Korean Air dan Garuda Indonesia.

Kebetulan saat saya hendak membeli tiket, Garuda Indonesia sudah fully booked sehingga saya memutuskan untuk terbang bersama Korean Air. Biaya yang saya keluarkan sejumlah +-Ā USDĀ 690 untuk penerbangan dari Jakarta ke Seoul dan dari Seoul ke Busan (Gimhae).

Setelah dibayarkan, saya dapat tiket elektroniknya. Biyuh…