Kegiatan-kegiatan selama kerja di Seoul (12-bersambung)

For slur, just blow without tonguing.

– Guru les flute

“The Pathetique Symphony” adalah symphony terakhir yang ditulis oleh Tchaikovsky sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Karakteristik symphony ini terletak pada nada diminished (lebih kecil dari nada minor) yang muncul tiba-tiba di tengah rantaian nada-nada major. Pada umumnya nada major melambangkan keceriaan sedangkan nada minor menggambarkan kesedihan. Rumor menyebutkan bahwa di akhir hidupnya komposer kenamaan Rusia ini mengalami depresi karena tekanan dari kekaisaran Rusia yang ingin menutupi hubungan cinta sesama jenis yang dilakukannya dengan salah satu anggota keluarga kekaisaran.


Salah satu hal yang saya sukai dari guru les piano saya adalah pengetahuannya yang luas tentang sejarah musik-musik klasik. Sebelum memberikan PR untuk minggu ini, yaitu sepenggal dari The Pathetique Symphony yang diaransemen untuk piano (mulai menit 04:39- 05:40 dilanjutkan ke 07:01 – 08:00), ia memberikan latar belakang agar saya dapat memainkannya dengan sedikit melankolis menyesuaikan dengan keinginan komposernya.

Walaupun saya sangat senang diajar oleh guru piano saya sekarang, saya sedikit berharap kalau seandainya dia bukan laki-laki single umur 34 tahun. Seandainya wanita, maka berdua di dalam ruangan berbau lavender sambil menghadap baby grand piano berwarna putih dan sesekali saling menyentuh tangan untuk mengajarkan tentang balance kekuatan masing-masing tangan sebagai accompaniment dan harmony tidak akan terasa awkward.

Guru piano cewek : Fingering kamu salah, mari saya contohkan cara fingering yang benar………

  • ♫ bom chicka pew pew. bom chicka diw diw ♫. (musik latar belakang film biru tahun 90an)

Ternyata film “The Pianist (the ‘a’ is silent)” yang saya download di torrent bukan film the pianist yang itu……(menghela nafas panjang)………kunci pintu kamar.


Anyway, berbicara tentang double entendre, les flute saya akhir-akhir ini semakin serius karena jadwal recital saya semakin dekat.

Yoi, flute recital. Tanggal 23 Desember nanti. Guru flute saya sudah menjadwalkan seluruh muridnya untuk memainkan satu lagu pilihan tergantung tingkat kemahiran. Karena saya masih pemula, kemungkinan besar Rabu ini, bu guru akan memilih lagu versi pemula dari “The Entertainer” oleh Scott Joplin untuk saya mainkan.

Setelah recital, nantinya kita akan sama-sama memainkan beberapa Christmas Carol. Sepertinya akan sangat menyenangkan.

Walaupun menyenangkan, belajar flute itu cukup susah. Hal yang paling susah dilakukan selama jam pelajaran bukan meniup flute, tetapi menahan agar muka saya tetap poker face dan tidak berubah menjadi muka mesum selama guru menerangkan karena adanya kata-kata seperti fingering, blowing, dan tonguing.

Mari saya ceritakan sedikit tentang pengalaman saya belajar flute. Setelah bertukar email tentang jadwal dan biaya les privat flute, saya pun setuju untuk latihan tiap hari Sabtu pagi di apartemennya si agassi (belum menikah) PSH (inisialnya –red). Sebelumnya, sedikit latar belakang tentang agassi PSH. Ia adalah guru flute dengan gelar S2 Music Education dari Yonsei Univ dan pengalaman touring selama 1 tahun di USA sebagai flautist. Plus, she is a super cute 32 years old Korean woman.

Sebelum pelajaran, saya dan agassi PSH yang berbusana musim panas di rumah sendiri, saling memperkenalkan diri. Saya menyebutkan alasan saya ingin belajar flute yang saya ceritakan di dua post sebelumnya, tentang Gabriel’s Oboe dan Harp and Flute concerto oleh Mozart. Selain itu, saya juga ingin memainkan lagu-lagu gereja. Mendengar cerita saya, agassi PSH langsung mengangguk setuju dan menyebutkan bahwa ia juga flautist di gereja. Ia juga setuju kalau Harp and Flute concerto oleh Mozart adalah musik yang sangat surgawi. Kesan pertama yang cukup bagus menurut saya.

Pelajaran pertama adalah tentang pernafasan yang merupakan inti dari alat musik tiup. Pernafasan melalui perut dan bukan dengan dada. Agassi PSH (APSH) memperagakan cara bernafas yang baik dan benar. Selama 20 detik, tanpa pikiran mesum sama sekali (seriusan!), saya hanya memandang dada yang naik turun di depan saya. Keseriusan saya untuk belajar flute sangat besar. Tiba-tiba, APSH menyuruh saya untuk menyentuh perutnya untuk merasakan bagaimana perubahan diafragma memberi efek pada kembang kempisnya perut. Kemudian, saya memegang perut APSH. Nope, tidak ada pikiran mesum sama sekali. Keseriusan saya untuk belajar flute sangat besar.

APSH kemudian menyarankan saya agar membeli flute sendiri untuk berlatih mandiri. Pilihan kami jatuh kepada Yamaha YFL-221 Student Flute.

Casio Digital Piano CDP-120 dan Yamaha YFL-221 Student Flute

Latihan flute ternyata lebih menyenangkan dari yang saya bayangkan. Tidak ada tekanan, tidak ada ujian. Hanya ada bermain musik dan segala sesuatunya menyenangkan.
NB: Judul film “The Pianist (the ‘a’ is silent)” itu fiktif. Siapa tau ada yg cari di torrent.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s