Kegiatan-kegiatan selama kerja di Seoul (15-bersambung)

Kim Yuna jadi bintang iklan Maxim White Gold? More like Maxim White Silver! Am i right? Hehehe. #Sochi #neverForget. (referensi jokenya buat yang tidak tinggal di Korea)

Pembaca : Joke lu murahan banget Tom, udah gitu ga lucu.

Enak saja murahan. Demi joke ini saya sengaja membeli kopi sachet-an di atas yang harganya lebih mahal 500 won dari yang biasa saya beli (kopi maxim warna kuning keemasan yang biasa di kantoran). Paling murah.


Setelah satu setengah tahun mengikuti les piano, saya memutuskan untuk berhenti minggu kemarin. Ada beberapa alasan yang menyebabkan saya mengambil keputusan itu. Salah satunya adalah alasan keuangan. Beberapa bulan mengikuti les privat flute dan piano cukup menguras kantong juga. Saya harus memilih antara les flute atau les piano dan setelah menonton Mozart Flute and Harp Concerto di Seoul Arts Center tanggal 14 Februari kemarin, saya memilih les privat yang diajar wanita Korea cantik berusia 32 tahun yang sering menyuruh saya untuk memperhatikan dada dan bibirnya untuk mendemonstrasikan cara memainkan instrumen yang baik dan benar. Yay~

Sebenarnya saya ingin memberikan alasan yang jujur tentang keputusan saya kepada guru les piano. Selain alasan keuangan, kesibukan kerja dan jarang latihan serta keinginan saya untuk tidak bangun pagi jam 7 di hari Minggu supaya sempat pemanasan jari dan latihan lagu yang sedang dipelajari selama setengah jam, mandi dan berangkat ke Sinchon yang berjarak empat puluh lima menit dari rumah agar sampai di tempat les jam 9 pagi.

Masalahnya, setelah cukup lama mengikuti les, ada sedikit perasaan berat hati untuk memutuskan hubungan yang sudah lama kami bina ini. Rasanya seperti minta putus dengan pacar. Sepertinya sih. Soalnya saya tidak tahu rasanya minta putus dengan pacar. Seumur hidup cuma pacaran enam bulan dan saya yang diputusin. Hiks. Curcol.

Kelas terakhir saya ini sangat-sangat berkesan. Sebetulnya jadwal minggu lalu adalah latihan awal Sonatina in F Major oleh Beethoven. Tapi karena saya sudah mau berhenti akhinya kami memutuskan untuk tidak latihan lagu itu. Dia menyuruh saya untuk memainkan lagu apapun yang saya suka untuk kelas kami yang terakhir.

Saya memilih Prelude in C gubahan Bach. Pilihan yang cukup berani karena lagu ini jika dimainkan dengan jelek akan terdengar sangat monoton. Namun jika dimainkan dengan benar dengan tempo yang stabil dan mengikuti dinamika lagu (piano, pianissimo, forte) akan terdengar sangat indah. Saya memainkan dengan jelek tentunya karena saya masih sangat pemula.

Pilihan saya itu langsung dihadiahi fun fact olehnya.
Saya baru tahu kalau di pesawat antariksa Voyager yang sedang menjelajah luar angkasa ada “Golden Record” yang berisi suara dan gambar yang dianggap mewakili planet bumi jika suatu saat pesawat ini bertemu dengan kehidupan lain. Salah satu segmen dari record ini adalah musik planet bumi. Ada dua puluh tujuh lagu yang terdapat di dalamnya dan salah satunya adalah……Kinds Of Flowers — Java, court gamelan. Yup. Gamelan Jawa. Walaupun saya belum pernah mendengar lagunya tapi ada sedikit perasaan bangga. Hidup Indonesia!

Dengarkan di sini isi dari suara-suara yang terpilih untuk mewakili planet kita.

Dari beberapa musik klasik yang terpilih, ada tiga lagu dari J.S.Bach, dua lagu L.V Beethoven dan hanya satu W.A. Mozart. Jadi ini sekaligus menjawab pertanyaan paling tidak penting tentang siapa komposer terbesar di bumi. Menurut komite Voyager, jawabannya : Johann Sebastian Bach.

Jadi, keputusan saya untuk memainkan Prelude in C oleh Bach di kelas piano terakhir saya cukup tepat. Saya memainkan lagu gubahan komposer terbesar di bumi.

Setelah saya, giliran guru piano saya yang ingin memainkan piano. Pilihannya jatuh kepada Chopin. Lagu ini didedikasikan olehnya khusus untuk saya. Bukan untuk memberi pengajaran. Semata-mata hanya untuk menghibur. Chopin Nocturne in E-flat, Op.9 No.2

Lagu yang lembut, permainan yang sangat indah dan penuh penghayatan ditambah perasaan emosional karena kelas terakhir menyebabkan lagu ini sangat berkesan. Mungkin hari itu ruangan studio yang kami pakai belum dibersihkan karena ada banyak debu yang masuk ke mata saya.

Terima kasih guru piano, Dr. Han Byoungho. Terima kasih sudah mengajar saya bermain piano. Terlebih lagi terima kasih karena sudah mengenalkan saya akan keindahan musik terutama musik klasik. Bravo!

Advertisement